Kamis, 05 Juli 2012

Cara Asyik Untuk Menikmati Liburan di Jogja!

 
 

Itu poto masa lalu ketika didalam keraton, aku mau memfoto 3 temanku yang sedang eksen, eh itu budhe bule nyelonong aja. Aku pun bengong liat itu budhe bule yang lewat begitu saja dengan polosnya, teman pun tertawa dan kemudian budhe bule itu mungkin nyadar bahwa ia telah nyelonong disela-sela orang yang lagi eksen, kemudian si budhe bule pun minta maaf dan minta foto kita berempat, kita berempat pun di poto oleh si budhe bule, mungkin foto-nya mau disempen buat kenangan atas peristiwa penyelonongan yang beliau lakukan.




 Ah, lupakan soal poto, mari ngerumpiin tentang Cara Asyik Untuk Menikmati Liburan di Jogja! karena blog ini kan konsep ide-nya sederhana, jadi aku mau ketik cara asyik-nya yang sederhana juga menurut persi pribadi gitu. Gimana caranya? ya nikmati liburan di Jogja itu dengan melakukan aktifitas yang menyenangkan. Kunjungi tempat-tempat yang asyik nan nyantai. Misal:
  1. Mengunjungi Keraton Dan Taman Sari
    Jalan santai didalam keraton sambil lihat-lihat dalemannya keraton, lihat pertunjukan tari atau gamelannya (kalo pas ada), terus keluar dari keraton bisa geser keselatan dikit ke Taman Sari, sambil jalan nyantai lihat-lihat pemandangan yang ada didalam taman sari.
  2.   Muter-muter naik Andong atau Becak
    Kalo misal merasa capek kalo-kalo jalan-jalan pakek kaki, yah bisa deh muter-muternya itu naik andong atau becak. Di Jogja banyak kok andong dan becak yang siap mengantar kamu keliling Jogja, kalo muter-muter naik andong atau becak pesan dariku “jangan lupa pakek bayar”, kalo mau yang gratis ya jalan kaki aja.
  3. Belanja di Malioboro
    Buat yang suka belanja, bisa melampiaskannya di Malioboro. Mau belanja pakaian batik atau segala macam aseroris bisa-bisa saja karena di Malioboro mau beli apa aja ada, kalo gak ada yang mau dibeli ya sudah beli saja apa yang ada.
  4. Makan sambil Nongkrong
    Nah, soal makan sambil nongkrong ini bisa dilakukan dimana aja, cari aja angkringan, mungkin bisa di utara station Tugu tuh sambil ngopi Joss, kalo sarapa gitu bisa tuh disekitar depan pasar Beringharjo.
  5. Keliling pakek Sepeda
    Kalo muter-muter pakai andong atau becak kan jangkauannya biasa dalam kota atau yang dekat-dekat aja gitu kan, kalo misal mau jauh-jauh bisa sih tapi tentu lebih mahal. Nah, kalo pengen lebih murah meriah kelilingnya pakai sepeda aja. Kalo gak bawa atau gak punya sepeda? bisa nyewa!!! (mau nyewa sepedaku? boleh,hub @mbak_widha). Kalo naik sepeda kamu bisa muter-muter kemana-mana, dari kota ke Prambanan pun boleh aja, soal jalan jangan kawatir, jalan di kota Jogja rata-rata rata alias tidak naik turun kayak di gunung. Kalo dari kota Jogja ke Prambanan itu yang berasa naik/turun tajam cuma di sekitar Carefour jalan Jogja-Solo itu. Kok aku tau? sudah pernah nyepeda dari kota ke Prambanan ya? jangankan dari kota ke Prambanan, sampek Klaten dengan waktu tempuh 3 jam pun pernah kok.
  6. Jalan-jalan malam ke alun-alun kidul
    Kalo malam itu dari Tugu hingga alun-alun kidul itu bisa banyak orang nongkrong, tapi kalo tidak ingin sekedar nongkrong bisa tuh jalan-jalan malamnya ke alun-alun kidul. Disana bisa main diantara beringin kembar, yang rame-rame bisa nyewa sepeda tandem atau sepeda hias buat muter-muter, atau bisa juga nyewa sepeda gandeng. Kalo malam itu alun-alun kidul paling berkelip-kelip deh.
Apa lagi ya? ah udahan aja deh, ini cara asyik tapi sederhana persi ketak-ketik, persi anda gimana ya mana ku tahu. Buat yang sedang berlibur ke Jogja selamat menikmati liburannya, buat yang belum pernah ke Jogja ya buruan deh ke Jogja, buat yang pengen lagi kembali berkunjung ke Jogja ya silakan aja deh.
Salam ketak-ketik dengan asyik
dari pojokan…..

Kebodohan Rohani


Sesungguhnya bagi yang mengerti tentang hakekat kebenaran (ajaran agama), maka tiada yang perlu diperdebatkan lagi. Karena mereka akan menyibukkan diri mewujudkan ajaran agamanya.
Sebaliknya orang-orang yang lebih sibuk memperdebatkan agama tanpa sadar telah memperlihatkan kebodohan rohaninya.
#
Membicarakan hakekat kebenaran bisa jadi bisa membuat kita lebih pintar dan berwawasan luas. Membuat kita banyak tahu dan tampak hebat. Karena kita menjadi berhasrat untuk mencari dan belajar.
Tetapi belum tentu menjamin kita akan semakin cerdas secara kerohanian. Menjadikan kita lebih bijak dan dewasa dalam kebatinan.

Karena kecerdasan rohani hanya dapat kita peroleh dengan merenungi dalam kesunyian tentang hakekat kebenaran yang diajarkan oleh agama.
Kedewasaan rohani akan kita peroleh melalui pengalaman hidup sehari-hari yang dapat kita jadikan sebagai refleksi dan introspeksi.

Hiruk-pikuk perdebatan kita tentang ajaran agama lebih membuat jiwa kita semakin kerdil. Lebih parah lagi ego semakin membesar. Semakin menjauh dari kesejatian.
Bisa saja kita kemukakan sejuta pembenaran. Bahwa perdebatan itu baik adanya. Bisa menambahkan kedewasaan kita dalam beradu argumen.

Tidak ada yang salah memang. Namun siapa yang dapat menjamin demikian kebenarannya?
Seringkali dalam keramaian membicarakan tentang ajaran agama. Kita terjebak menunjukkan kebodohan rohani kita.
Karena bagi mereka yang mengerti ajaran agamanya. Sudah memahami inti kebenaran, maka tidak akan banyak bicara lagi. Lebih banyak meneliti ke dalam diri.

Percayalah. Bagi mereka yang telah mengerti, maka tidak akan menyibukkan diri mempertunjukkan bahwa dirinya paling benar.
Hanya kita yang masih dalam kebodohan rohani yang masih perlu merasa sibuk untuk mendapatkan pengakuan. Bahwa ajaran atau keyakinan kita yang paling benar.

Percayalah.Bahwa kebenaran hakiki itu tidak perlu pengakuan dari siapapun. Karena semesta akan menunjukkan kebenaran itu pada akhirnya.
Lagi pula kebenaran yang sesungguhnya tidak akan mampu dibahas dengan kata-kata.
Kata-kata yang ditulis dari tinta sebanyak tujuh samudra pun tak akan sanggup menjelaskan.

Semakin banyak kebenaran ajaran agama yang kita bicarakan dan perdebatan. Bisa-bisa membuat kita semakin jauh dari kebenaran. Semakin terjebak dalam kebodohan rohani.

Selesai membaca tulisan ini kemungkinan akan terdengar protes dari semuanya,”Woiii sadar woiiii… yang nulis tuh bodohnya kebangetan. Udah bodoh duniawi, bodoh rohani lagi!”

Bisa protes apa saya, selain mengamini?

Rabu, 04 Juli 2012

FRAGMENTASI SPIRITUAL

Dikotomi spiritual
Spiritualitas adalah sebuah jalan batin yang memungkinkan seseorang untuk menemukan esensi dalam memaknai hidup dan kehidupan diri mereka di dunia ini. Praktek-praktek spiritual, termasuk meditasi, doa dan kontemplasi, diarahkan dengan maksud untuk mengembangkan kehidupan batin individu, praktik-praktik tersebut sering bertumpu kepada pengalaman keterhubungan dengan suatu realitas yang lebih besar, menghasilkan lebih komprehensif diri; dengan individu lain atau komunitas manusia, dengan alam atau kosmos, atau dengan alam ilahi. Spiritualitas sering dialami sebagai sumber inspirasi atau orientasi dalam hidup. Hal ini dapat mencakup keyakinan pada realitas material atau pengalaman sifat imanen atau transenden dunia.

Banyak pemahaman kemudian menyandingkan spiritual dengan agama. Agama memiliki kecakupan yang lebih luas, mengatur tatanan peradaban manusia, sedangkan spiritual lebih kepada laku pribadi masing-masing individu. Agama adalah sebuah laku spiritual dalam memaknai Ad Dien (Jalan Lurus). Maka menurut pemahaman kaum teologis, agama itulah adalah ad dien itu.  Sementara kaum spiritualis, memaknai spiritual sebagai sebuah laku dalam  mencari Ad Dien tersebut. Persoalan yang muncul bagi kaum spiritualis, kemudian adalah apakah Ad Dien itu berupa agama atau hanya sebuah aliran kepercayaan,  atau yang  biasa disebut sebagai kearifan lokal.

Banyak masyarakat, kaum suatu atau suku, atau golongan kemudian masih berpegangan kepada kearifan lokal saat menjalankan agama.  Penyebaran agama yang demikian hebat. Memaksa masyarakat lokal untuk menerima begitu saja agama baru tersebut pada jaman itu. Pen-syiar-an agama, tausiah, dan dakwah-dakwah,  sering gagal menyentuh aspek-aspek spiritual mereka. Walaupun sebenarnya, jikalau kita kaji benar, diantara pemahaman tersebut  sebenarnya, terdapat juga titik singgung dimana keduanya bertemu. Masing-masing pelaku, merasakan  hasil yang relative sama pada badan mereka. Kenyamanan, ketenangan dan hal-hal postip dalam cara pandang mereka dalam memaknai hidup dan kehidupan mereka di dunia.

Para pelaku spiritual baik yang memakai baju  agama dan atau  penganut kepercayaan serta pelaku meditasi sama-sama akan mendapatkan rasa di badan,  mereka menjadi  lebih nyaman. Selama dalam mereka menjalani laku spiritual. Masing-masing dalam ritual-ritual mereka. Kenyamanan ini akan membuahkan perilaku positip. Inilah faktanya. Sebuah konsep dalam pengolahan jiwa manusia. Sehingga pelaku yang sungguh-sungguh menetapi jalannya masing-masing tersebut menjadi yakin. Keyakinan  ini rupanya melahirkan pemahaman  bahwa semua agama itu “benar”. 

 Bahwa aliran kepercayan mereka juga “benar”. Dalam persepsi masing-masing tentunya.  Semua akhirnya menjadi benar dan  yakin dengan  laku peribadahan masing-masing. Maka tidak sedikit akhirnya diantara kaum spiritualis kemudian meyakini bahwa  mengawinkan kearifan lokal dengan agama adalah sebuah keniscayaan. Bermula dari sinilah kemudian spiritual mengalami fragmentasi dalam segmennya masing-masing. Muncullah Islam dengan spiritual Jawa, Islam dengan spiritual Batak, Islam dengan spiritual India, Cina, Persia, atau spiritual Arab dengan kabilah-kabilahnya, dan sebagainya dan sebagainya. Meskipun fenomena ini tidak kasat mata namun bagi pelaku spiritual akan sangat paham sekali kemungkinan kemungkinan ini.

Sebagaimana juga di alami oleh agama Kristen. Dimana  ketika berbenturan dengan kearifan lokal mereka kemudian bersimbiosis  muncul Kristen Jawa, Batak, Sunda, dan lain sebagainya.
Masalahnya adalah apakah Islam menerima simbiosis ini. Islam menuntut agar para penganutnya masuk kedalam agama Islam secara kafaf, secara totalitas. Dengan sebuah konsep ˜BERSERAH DIRI” tanpa “reserve”.

Inilah problematika yang dihadapi para spiritualis lokal dalam mempelajari Islam. Ketidak berdayaannya melepaskan diri atas kesadaran kolektif yang di bangun oleh nenek moyang, atas hal ghaib dan realitas. Mana imanen dan mana transeden. Dengan istilah-istilah yang sulit dicarikan referensinya dalam Islam, membuat para spiritualis lokal (Baca; Jawa) mengalami kegamangan. Ambivalensi agama atas spiritual (baca; kejawen). Kesemua ini telah menyebabkan kemunduran tersendiri bagi spiritual Islam. Sehingga kita dapati orang Indonesia sekarang beragama namun tidak ber ketuhanan. Hancurnya tatanan moralitas sekarang ini, mungkin dapat dijadikan ukuran atas pernyataan ini.

Kearifan lokal (Spiritual lokal)

Ketika agama berbenturan dengan spiritual lokal. Ketika agama mengalami pergumulan dengan kearifan lokal. Ketika terjadi pemaksaan atas nama agama kepada kaum spiritualis lokal. Ketika tidak ada lagi wacana. Ketika yang ada adalah salah dan benar, kafir atau muslim. Tidak ada jalan bagi kaum spiritualis untuk menolak kehadiran agama dalam hidupnya. Maka yang terjadi kemudian pergumulan dalam jiwa para pemeluk agama,  (spiritualis)  yang masih tetap tak berkesudahan hingga melintas memasuki jaman milinium ini.

Bagaimana kearifan spiritual lokal kemudian menyikapi hal ini.?. Beberapa spiritualis Islam Jawa masa lalu seperti diantaranya  Ki Ageng Selo, dan Ki Ronggowarsito paham benar dengan situasi ini. Mereka mengerti betapa tinggi dan luhurnya filosofi Jawa, mengakar begitu kuat dan dalam pada kesadaran orang-orang Jawa. Laku orang Jawa adalah spiritual itu sendiri dalam kesehariannya. Maka untuk menjebatani ini, mereka kemudian membuat beberapa methode dan simbolisme , agar mudah dipahami oleh orang-orang Jawa dalam menetapi Islam. Mereka mencoba men-transformasikan kearifan lokal, spiritual Jawa ke dalam Spiritual Islam. (Baca Pepali Ki Ageng Selo).

Dalam agama Islam, dan juga agama agama lainnya, spiritual selalu disandingkan dengan pemahaman surga dan neraka. Perimbangan antara keduanya menjadi titik sentral agar manusia selalu mawas diri dalam menapaki jalan kehidupannya di dunia. Tingkah laku mereka sudah diatur dan diarahkan dengan sangat hati-hati agar tidak terjerumus kepada perlilaku negatif. Sejak masih kecil pemeluk agama di berikan doktrinasi dan ritual-ritual keagamaan, yang diharapkan akan mampu mengarahkan perilaku pemeluknya kepada perilaku positip.
Rangkaian  methode peribadatanpun sudah di berikan oleh para pembawa risalah agama-agama masing-masing, untuk menuntun semua pemeluk dan penganutnya agar mendapatkan hasil optimal sebagaimana yang diharapkan oleh agama tersebut. Sementara dalam spiritual biasa menitik beratkan~berporos kepada kehidupan di dunia saja. Penyatuan kepada alam semesta. Harmonisasi alam.

Jika semua menuju kepada jalan yang sama kepada Ad Dien yang diyakini kebenarannya masing-masing. Tentunya semua akan sampai kepada titik singgung, titik pertemuan para penempuh jalan,  suatu kearifan spiritual. Kearifan yang mampu meredam seluruh perbedaan atas jalan masing-masing yang di tempuh. Ibarat kita akan pergi ke Roma, tentunya banyak jalan kesana.  Sayangnya itu tidak pernah terjadi, kalaupun terjadi biasanya dalam skala minimal tidak berlaku umum. Sejarah telah mencatat pada setiap agama-agama yang diturunkan di bumi ini, ternyata sama-sama telah menyisakan sejarah kelam. Dalam perkembangan dan pertumbuhan agama itu sendiri.  Kearifan nyaris terkikis oleh benar dan salah. Agama telah kehilangan nilai spiritual-nya?. Mungkinkah terjadi ?.

Maka , ketika kenyamanan badan  yang di dapatkan oleh seorang pelaku spiritual menjadi ukuran dalam pembenaran atas dirinya, atas ajaran sebuah agama, atas sebuah kepercayaan. Niscaya mereka akan berhadapan dengan ajaran lain yang juga sepertinya mendapatkan hasil yang sama, meski  laku mereka agak berbeda. Jika spiritual bekerja dengan cara seperti ini, maka dapat dipahami apabila hasilnya adalah sebuah peradaban yang penuh dengan caci maki, perpecahan dan pertikaian. Demi pembenaran terhadap perilaku manusia atas manusia lainnya, yang tengah menjalani laku berbeda, walau keduanya sama-sama sedang berusaha memaknai kehidupan ini. Menetapi kehidupan ini. Tak peduli, walaupun masing-masingnya juga sedang berusaha untuk menjadi baik dengan perilaku yang tengah mereka jalani itu.

Akhirnya wajar jika sesuatu yang baik menurut suatu golongan dianggap tidak baik oleh sebagian manusia lainnya. Sayangnya lagi, meski masih dalam satu golongan, konotasi baik diantara mereka itu juga kemudian telah  di persepsikan lagi oleh sebagian lainnya, menjadi hitam putih lagi. Jadilah baik bagi siapa dan untuk siapa. Baik menjadi banyak makna.

Semua punya cerita dan alasan sendiri-sendiri. Dan tanpa disadari, semua menuju jurang perpecahan dan penghancuran masing-masing. Maka tidak mengherankan apabila kemudian dalam sebuah agama terjadi puluhan perpecahan dan di dalamnya banyak sekte, banyak ritual dan banyak dogma-dogma yang justru semakin menjauhkan diri mereka sendiri dari niat mereka dalam ber-spiritual pada awalnya.
Kalau begitu, kemudian timbul pertanyaan adakah sebuah garis lurus (Shirotol Mustakim) ?, sebuah benang merah yang mampu menjelaskan spiritual seperti apakah sebenarnya yang dapat menjebatani seluruh pemahaman yang ada di dunia ini ?.

Kemudian spiritual seperti apakah yang  mampu  menyadarkan manusia dalam dikotomi dan ambivalensi agama. Sehingga tidak ada pemisah lagi antara agama dan spiritual. Dan spiritual seperti apakah yang kemudian mampu menyadarkan kita bahwa setiap manusia berada dalam makomnya masing-masing ?.
Jika agama adalah sebuah pemahaman yang satu. Diibaratkan sebagai sebuah jalan yang lurus (shirotol mustakim), maka setiap golongan dan sekte tengah berjalan bersama-sama menuju Tuhan yang satu.

Tentunya yang membedakan dari masing-masing manusia, dan agama, atau golongan, adalah pencapaiannya pada kilometer keberapa dia pada akhirnya nanti. Apakah mereka mampu sampai ke garis finis..?. Ataukah berhenti ditengah jalan dan tidak pernah sampai. ?. Dengan methode dan kendaraan yang tepat manusia dapat mencapai kilometer yang lebih jauh dibandingkan dengan manusia lainnya. Manusia hanya perlu mencari kendaraan yang tepat  dan strategy mana yang lebih cepat dalam  menghantarkannya ke titik akhir di sebuah jalan yang lurus tersebut. Dalam keterbatasan sang waktu. Tidak ada saling menyalahkan dan tidak ada perpecahan. Bukankah ini tujuan kita dalam ber spiritual ?. Mungkinkah..?.

Sistem kesadaran manusia

Dalam kitab-kita suci agama-agama besar yang ada di dunia. Banyak diceritakan tentang perimbangan surga dan neraka. Bagaimana sifat-sifat orang-orang yang akan menghuni surga dan bagaimana ciri-ciri orang yang akan menghuni neraka. Telah diuraikan dengan teliti. Nah..Dengan pengetahuan itulah para pemeluk agama kemudian menyatakan diri mereka masing-masing sebagai ahli surga. Tidak ada satu mahkluk di bumi ini yang bersedia menjadi ahli neraka.  Sudah jamaknya memang demikian. Namun apa jadinya, jika kemudian lantas menjadi  tidak peduli dengan pernyataan Tuhan mereka.

Pernyataan mutlak bahwa siapa-siapa saja yang akan menghuni surga atau neraka adalah kewenangan dan hak mutlak Tuhan mereka. Sudah menjadi ketentuan Tuhan. Tidak ada sedikitpun campur tangan manusia dalam hal ini. Tidak juga atas usaha manusia itu sendiri. Tuhan berbuat sekehendak diri-NYA, dalam system keadilan yang sangat luar biasa. Sehingga, sesungguhnya menjadi sangat naif ketika semua orang berebut menyatakan dirinya sebagai ahli surga. 

Menjadi sangat naif lagi jika kemudian memvonis manusia lain adalah ahli neraka. Jikalau begini, telah kita dapati kembali  sebuah peradaban yang hanya berisi perpecahan, caci maki, dan sebagainya, baik dalam satu agama apalagi lintas agama. Sungguh luar biasa sekali manusia dengan akalnya ini.
Apakah kalau begitu semua golongan adalah benar..?. Atau
Apakah hanya satu golongan yang benar dan yang lain salah..?.

Benar dan salah, akhirnya memiliki kompleksitas tersendiri. Ketika berbenturan dengan kearifan lokal. Meskipun penyebaran agama yang demikian hebatnya telah mampu memaksa dan  menerobos tatanan spiritual suatu masyarakat yang telah dibangun secara turun temurun dengan cara menggantikan kesadaran kolektif (spiritual) yang ada pada kaum tersebut dengan pemahaman baru . Namun ternyata pemaksaan ini, tanpa disadari telah melahirkan  pertentangan hebat dalam diri pemeluknya.

Kesadaran kolektif akan selalu menemukan jalannya untuk diturunkan. Sebuah entitas yang sudah masuk kedalam kesadaran manusia tidak akan begitu saja mudah dibuang. Bagaimanapun caranya entitas tersebut mencoba mempertahankan diri bahkan mungkin juga malah tetap dipertahankan oleh manusia itu sendiri. Inilah bekerjanya spiritual dalam kesadaran manusia. Ketika sesuatu hal ghaib sudah dimasukan dalam kesadaran manusia maka akan menjadi realitas bagi mereka.

Sebagai contoh, ketika saat kesadaran manusia masih berada dalam tahap mengakui bumi sebagai pusat tata surya. Masuknya pemahaman baru yang menyatakan bahwa mataharilah pusat tata surya bukannya bumi. Pemahaman ini, mendapat perlawanan hebat, tidak sedikit korban manusia. Sungguhpun tidak ada satu orangpun pada jaman itu yang mampu menyaksikan bagaiamana system tata surya tersebut bekerja.

Kesadaran kolektif mereka terlanjur menganggap bahwa matahari mengelilingi bumi adalah realitas. Dan pemahaman lain adalah ghaib.  Tidak mudah kesadaran manusia beralih begitu saja. Padahal kalau kita kaji nyatanya kedua duanya adalah sama-sama ghaib, mengapa..?. Karena tidak ada satupun manusia yang mampu dengan inderanya mengetahui itu.

Banyak instrument dalam diri manusia yang perlu ditundukkan agar kesadaran manusia mau menerima sebuah kesadaran yang lain lagi. Begitulah kesadaran, begitulah spiritual.
Hal ini begitu nyata dalam tatanan spiritual Jawa. Banyak entitas yang dimasukan dalam kesadaran orang-orang Jawa. Hingga banyak orang Jawa tetap dalam spiritual Jawanya meski telah ber-Islam atau telah memeluk Kristen.

Rupanya ini juga terjadi diseluruh pelosok penjuru bumi, dalam penyebaran-penyebaran agama baru, sejak kisah para orang-orang Romawi hingga menyebar di kekinian. Ketika agama berhadapan dengan spiritual lokal, baik di India, di Persia, di Cina, bahkan di pusat peradaban Islam sendiri spiritual Arab mengalami hal yang sama dan lain sebagainya, agama diterima dengan pemahaman spiritual lokal yang melekat secara turun temurun.

Kenyataannya tidak ada transformasi kesadaran dari spiritual lokal kepada spiritual agama yang baru.(baca ;Islam).  Jika akal dan jiwa masih belum mau tunduk maka sulit sekali kesadaran akan ber transformasi. Maka menjadi dimengerti ketika Islam kesulitan melakukan transformasi kesadaran dari jaman sahabat kepada generasi-genersi  berikutnya. Ada sebuah missing link. Banyaknya suku dengan beragam budaya dan spiritual lokalnya menjadi kesulitan tersendiri. Maka tak heran jika kemudian wajah Islam dan agama-agama menjadi seperti sekarang ini. Banyak golongan ter-fragmentasi dalam segmennya masing-masing. Maka tak aneh jika surga kemudian telah dikapling berdasarkan segmennya masing-masing, dalam persepsi masing-masing golongan. Sungguhkah tak ada surga bagi golongan lainnya..?.

Memasuki millennium baru, benturan-benturan tersebut tidak mampu di tuntaskan. Sejak masuknya Islam di Pulau Jawa, sejak jaman para Wali. Hal ini seperti mengendap begitu saja. Menyisakan kegamangan tersendiri bagi orang Jawa, bagi bangsa-bangsa lainnya, dan demikian juga  halnya dengan bangsa arab sendiri. Spiritual Arab juga mengalami kegamangan yang sama ketika bertemu dengan spiritual Islam. 
Hasilnya selaramh baru kita sadari,  kita menjadi kesulitan memisahkan antara mana yang spiritual Arab dan mana yang spiritual Islam.

 Kita sebenarnya tahu bahwa Spiritual Arab melekat bersama adat istiadat dan budaya lokal mereka. Ketika mereka mempelajari Islam , orang arab juga kesulitan membebaskan diri atas spiritual lokal mereka (Arab). Hingga kejadiannya spiritual Arab dianggap sebagai perwujudan spiritual Islam. Dakwah Islam pun akhirnya sulit membebaskan diri dari hal ini. Tanpa disadari mereka memasukan unsure-unsur lokal Arab kepada spiritual Islam.

Akhirnya menjadi salah kaprah ketika masyarakat menganggap semua budaya arab identik dengan Islam. Tak aneh jika sekarang muncul fenomena, bila ingin dianggap sspiritualis sejati tinggal pakai baju gamis saja, ala orang arab maka kita pasti cepat dianggap sebagai ustad. Kita sudah terlupa bahwasanya Islam sejatinya adalah pembebas atas semua itu. Islam adalah agama PEMBEBASAN atas kesadaran spiritual yang yang ter fragmentasi.
Bagaimana  sebaiknya menyikapi ini..?.

Islam adalah spiritual

Spiritual adalah sebuah laku agar manusia mampu menundukan instrument ketubuhannya, sehingga manusia mampu menggunakan kesadarannya  untuk memahami dualitas  alam semesta dan meletakannya pada tempat yang semestinya.  Sehingga manusia juga mampu memahami antara mana hal ghaib dan mana hal  realitas .

Memaknai kelahiran dan kematian. Kemudian kesadarannya juga mampu membedakan antara bangun dan tidur. Dan dualita-dualitas lainnya. Dengan memahami ini manusia menjadi tenang, tidak pernah dirisaukan oleh dualitas tersebut.  Sehingga diharapkan  manusia mampu mencapai sebuah kesadaran tertinggi dalam martabatnya sebagai manusia. Kesadaran tertinggi inilah yang tidak sama antara satu agama dengan agama lainnya, antara satu keyakinan dengan keyakinan lainnya. Antara suatu kepercayaan dengan kepercayaan lainnya.

Kesalahan dalam memahami kesadaran tertinggi akan menyebabkan penderitaan berkepanjangan, itulah neraka. Maka dalam ber spiritual manusia memerlukan  teladan dan panduan. Kesalahan dalam mengambil teladan dan panduan juga akan menyebabkan penderitaan bagi manusia itu sendiri. Manusia yang mampu menemukan kesadaran tertingginya itulah manusia yang akan mendapatkan surga kebahagiaan. Maka meskipun teladan dan panduannya benar namun jika dia tidak mampu mendapatkan kesadaran tertingginya, maka manusia inipun akan mengalami penderitaan berkepanjangan pula.
Kesadaran tertinggi dalam Islam adalah jika manusia mampu mendapatkan sebuah kesadaran :
“LA ILA HA ILALLAH”.

Meletakan kesadaran pada kehendak Allah. Bahwa semua realitas yang ada adalah merupakan rangkaian kehendak-kehendak Allah yang tersusun dengan sangat luar biasa sekali. Pada setiap kejadian, pada setiap pembentukan, pada setiap apapun yang terjadi di seluruh permukaan bumi ini, baik itu sebutir  debu yang jatuh hingga kematian yang menerjang suatu kaum, berupa suatu bencana. Pada hamparan bumi dan langit, pada sintesa dan biosentesa, terjadinya angin dan hujan. Terjadinya malam dan siang. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Apapun kejadiannya dan realitasnya yang nampak adalah kehendak-kehendak Allah atas semua itu. Maka dalam kesadarannya hanya ada Allah saja yang berkreasi yang hidup, yang bekerja, yang mematikan, yang menghidupkan, semua, sebagaimana kesemuanya dalam asmaul husna,  dalam 99 nama-NYA.  Kemanapun manusia menghadap disitulah wajah  Allah. Kemanapun kesadarannya diletakan disitulah nama-nama Allah. Dalam penciptaan manusia, rejeki, jodoh dan mati. Distu terdapat nama-nama Allah. Maka tidak ada keraguan lagi ketika dia menghadapkan kesadarannya bahwa TIADA TUHAN SELAIN ALLAH, yang mampu berbuat semua itu, sekehendak diri-NYA.

Kesadaran seperti inilah sebenarnya yang diharapkan dalam ber spiritual. Sehingga manusia yang sudah mencapai kesadaran ini akan berperilaku penuh santun. Karena senantiasa dia akan melihat dalam perspektif ketuhanan sebelum melakukan tindakan apapun. Karena hanya Allah saja yang ada dalam kesadaran-NYA. Jika kemudian, ketika manusia beragama~namun kehilangan kearifan~kehilangan ketuhanannya.

Maka dapat diyakini dia tidak ber-spiritual. Hasil yang di peroleh dalam spiritual Islam begitu nyata dan merupakan suatu kepastian. Sholat akan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Pernyataan ini dalam Islam adalah sebuah kepastian yang akan diperoleh bagi orang yang sholat dan ber spiritual. Jika dia masih melakukan perbuatan keji dan mungkar dengan adar yang sama dari waktu ke waktu tidak berkurang. Maka yakinlah bahwa dia itu tidak sedang sholat. Sederhana dan simple sekali.

Bagaimana dengan lainnya..?. Menjadi pertanyaan penting adalah, sejauh mana suatu agama, atau aliran kepercayaan memandu para pengikutnya menuju kepada kesadaran tertingginya.
Jikalau kesadaran manusia selalu dihadapkan dengan patung. Maka kesadarannya akan berhenti pada patung tersebut. Hal ini tentu akan menyiksanya.
Jikalau kesadaran manusia selalau di hadapkan kepada harta. Maka kesadarannya senantiasa akan diliputi harta saja, oleh sebab itu kesadarannya akan berhenti dan menetap pada harta. Hal ini lebih akan menyiksanya lagi.

Jikalau kesadarannya dihadapkan kepada wanita, tahta, keluarga, anak, kerjaan, dan lain-lainnya, atau bahkan kepada alam semesta itu sendiri. Tetap saja kesadaran manusia akan berhenti kepada apa yang setiap saat dihadapkan dirinya kepada benda-benda itu. Dalam Islam hal ini di tentang sangat keras. INILAH SYIRIK. Tidak ada toleransi bagi para penempuh jalan spiritual jika mereka syirik. Kesadaran mereka harus senantiasa dihadapkan kepada Allah.

Islam sungguh telah menyiapkan dengan sempurna agar setiap suku, setiap golongan, setiap manusia manapun mampu memahami dan menetapi spiritual dalam Agama Islam. Jalan spiritual yang di tawarkan Islam hanya melalui rangkaian pemahaman; Iman, Islam dan Ihsan. Sangat sederhana sekali. Namun sebaik apapun methode yang di tawarkan selama manusia itu tidak mau menundukan akalnya terlebih dahulu maka manusia itu tetap tidak akan mampu memperoleh nilai spiritual seperti yang diharapkan Islam. Spiritual Islam menuntut agar pemeluknya mampu menundukan seluruh entitas dalam dirinya, melakukan transformasi dari sebuah kesadaran spiritual lokal kepada suatu kesadaran spiritual Islam. (Insyaallah ; Langkah-langkahnya akan diulas dalam Bab Membuka Hijab). Walohualam
salam

Selasa, 03 Juli 2012

MOTIVASI:"BERGERAK MAJU!"




Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.

Penderitaan, kemiskinan, Kelaparan, Kesedihan, Kegagalan dan kegundahan hidup yang kita alami adalah anugerah Maha Pencipta kepada kita, untuk bisa memahami dan mengerti akan kehidupan saudara kita lainnya.

Jika kita sedang benar, jangan terlalu berani dan bila kita sedang takut, jangan terlalu takut.Karena keseimbangan sikap adalah penentu ketepatan perjalanan kesuksesan kita.

Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil.

Kita hanya dekat dengan mereka yang kita sukai dan seringkali kita menghindari orang yang tidak kita sukai; padahal dari dialah kita akan mengenal sudut kita yang baru.

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan.

Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi pencapaian kecemerlangan hidup yang diidamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan.

Jangan menolak perubahan hanya karena kita takut kehilangan yang telah dimiliki(wilayah nyaman), karena dengannya kita merendahkan nilai yang bisa kita capai melalui perubahan itu kita tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila kita berkeras untuk mempertahankan cara-cara lama kita. Kita akan disebut baru, hanya bila cara-cara kita baru, senantiasa mengupdate, memperbarui diri.

Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan.Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap kita tepat, dan tidak ada yang bisa menolong bila sikap kita salah.

Jangan merasa benar sendiri, hebat sendiri, paling super sendiri. Karena di dunia ini ada pepatah “ diatas langit masih ada langit”. Padi yang makin berisi justru makin menunduk, senantiasa rendah hatilah dalam segala situasi. Kendalikan emosi dengan logika dan nalar sehat.

Beranilah “ya aku salah, minta maaf”,tanpa harus kehilangan muka,  senantiasa mau dan mampulah mengghargai kelebihan orang lain-tanpa harus minder/rendah diri.

Tetaplah bergerak maju . Saya punya slogan:” dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan iman hidup menjadi  terarah, dengan seni hidup menjadi indah dan dengan olah raga hidup menjadi lebih bermakna KARENA SEHAT”.

BERBUATLAH BAIK AGAR HIDUPMU MENDAPAT BERKAT&menjadi berkat bagi orang lain

BERBUATLAH BAIK, BENAR,JUJUR DAN ADIL AGAR HIDUPMU DIBERKATI

PENGANTAR


Salah satu karya besar dari RADEN Mas Ngabehi Ronggowarsito, Serat Kalatidha yang berisi gambaran zaman penjajahan yang disebut "zaman edan".Lahir pada 15 Maret 1802 dengan nama asli Bagus Burham. Ayahnya seorang carik Kadipaten Anom yang bernama Raden Mas Pajangswara. Ibunya Raden Ayu Pajangswara merupakan keturunan ke-9 Sultan Trenggono dari Demak.Pada 24 Desember 1873, meninggal dunia dengan tenteram. Tempat peristirahatan terakhirnya terletak di Palar, sebuah desa kecil di wilayah Klaten.

Mangkya darajating praja
Kawuryan wus sunyaturi
Rurah pangrehing ukara
Karana tanpa palupi
Atilar silastuti
Sujana sarjana kelu
Kalulun kala tida
Tidhem tandhaning dumadi
Ardayengrat dene karoban rubeda


Keadaan negara waktu sekarang, sudah semakin merosot.
Situasi (keadaan tata negara) telah rusah, karena sudah tak ada yang dapat diikuti lagi.
Sudah banyak yang meninggalkan petuah-petuah/aturan-aturan lama.
Orang cerdik cendekiawan terbawa arus Kala Tidha (jaman yang penuh keragu-raguan).
Suasananya mencekam. Karena dunia penuh dengan kerepotan.


Ratune ratu utama
Patihe patih linuwih
Pra nayaka tyas raharja
Panekare becik-becik
Paranedene tan dadi
Paliyasing Kala Bendu
Mandar mangkin andadra
Rubeda angrebedi
Beda-beda ardaning wong saknegara


Sebenarnya rajanya termasuk raja yang baik,
Patihnya juga cerdik, semua anak buah hatinya baik, pemuka-pemuka masyarakat baik,
namun segalanya itu tidak menciptakan kebaikan.
Oleh karena daya jaman Kala Bendu.
Bahkan kerepotan-kerepotan makin menjadi-jadi.
Lain orang lain pikiran dan maksudnya.


Katetangi tangisira
Sira sang paramengkawi
Kawileting tyas duhkita
Katamen ing ren wirangi
Dening upaya sandi
Sumaruna angrawung
Mangimur manuhara
Met pamrih melik pakolih
Temah suka ing karsa tanpa wiweka


Waktu itulah perasaan sang Pujangga menangis, penuh kesedihan,
mendapatkan hinaan dan malu, akibat dari perbuatan seseorang.
Tampaknya orang tersebut memberi harapan menghibur
sehingga sang Pujangga karena gembira hatinya dan tidak waspada.


Dasar karoban pawarta
Bebaratun ujar lamis
Pinudya dadya pangarsa
Wekasan malah kawuri
Yan pinikir sayekti
Mundhak apa aneng ngayun
Andhedher kaluputan
Siniraman banyu lali
Lamun tuwuh dadi kekembanging beka


Persoalannya hanyalah karena kabar angin yang tiada menentu.
Akan ditempatkan sebagai pemuka tetapi akhirnya sama sekali tidak benar,
bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali.
Sebenarnya kalah direnungkan, apa sih gunanya menjadi pemuka/pemimpin ?
Hanya akan membuat kesalahan-kesalahan saja.
Lebih-lebih bila ketambahan lupa diri, hasilnya tidak lain hanyalah kerepotan.


Ujaring panitisastra
Awewarah asung peling
Ing jaman keneng musibat
Wong ambeg jatmika kontit
Mengkono yen niteni
Pedah apa amituhu
Pawarta lolawara
Mundhuk angreranta ati
Angurbaya angiket cariteng kuna


Menurut buku Panitisastra (ahli sastra), sebenarnya sudah ada peringatan.
Didalam jaman yang penuh kerepotan dan kebatilan ini, orang yang berbudi tidak terpakai.
Demikianlah jika kita meneliti. Apakah gunanya meyakini kabar angin akibatnya hanya akan menyusahkan hati saja. Lebih baik membuat karya-karya kisah jaman dahulu kala.


Keni kinarta darsana
Panglimbang ala lan becik
Sayekti akeh kewala
Lelakon kang dadi tamsil
Masalahing ngaurip
Wahaninira tinemu
Temahan anarima
Mupus pepesthening takdir
Puluh-Puluh anglakoni kaelokan


Membuat kisah lama ini dapat dipakai kaca benggala,
guna membandingkan perbuatan yang salah dan yang betul.
Sebenarnya banyak sekali contoh -contoh dalam kisah-kisah lama,
mengenai kehidupan yang dapat mendinginkan hati, akhirnya “nrima”
dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan.
Yah segalanya itu karena sedang mengalami kejadian yang aneh-aneh.


Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada


Hidup didalam jaman edan, memang repot.
Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman
tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan.
Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada.


Semono iku bebasan
Padu-padune kepengin
Enggih mekoten man Doblang
Bener ingkang angarani
Nanging sajroning batin
Sejatine nyamut-nyamut
Wis tuwa arep apa
Muhung mahas ing asepi

Supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma


Segalanya itu sebenarnya dikarenakan keinginan hati. Betul bukan ?
Memang benar kalau ada yang mengatakan demikian.
Namun sebenarnya didalam hati repot juga. Sekarang sudah tua,
apa pula yang dicari. Lebih baik menyepi diri agar mendapat ampunan dari Tuhan.


Beda lan kang wus santosa
Kinarilah ing Hyang Widhi
Satiba malanganeya
Tan susah ngupaya kasil
Saking mangunah prapti
Pangeran paring pitulung
Marga samaning titah
Rupa sabarang pakolih
Parandene maksih taberi ikhtiyar


Lain lagi bagi yang sudah kuat. Mendapat rakhmat Tuhan.
Bagaimanapun nasibnya selalu baik.
Tidak perlu bersusah payah tiba-tiba mendapat anugerah.
Namun demikian masih juga berikhtiar.


Sakadare linakonan
Mung tumindak mara ati
Angger tan dadi prakara
Karana riwayat muni
Ikhtiyar iku yekti
Pamilihing reh rahayu
Sinambi budidaya
Kanthi awas lawan eling
Kanti kaesthi antuka parmaning Suksma


Apapun dilaksanakan. Hanya membuat kesenangan pokoknya tidak menimbulkan persoalan.
Agaknya ini sesuai dengan petuah yang mengatakan bahwa manusia itu wajib ikhtiar,
hanya harus memilih jalan yang baik.
Bersamaan dengan usaha tersebut juga harus awas dan
waspada agar mendapat rakhmat Tuhan.


Ya Allah ya Rasulullah
Kang sipat murah lan asih
Mugi-mugi aparinga
Pitulung ingkang martani
Ing alam awal akhir
Dumununging gesang ulun
Mangkya sampun awredha
Ing wekasan kadi pundi
Mula mugi wontena pitulung Tuwan


Ya Allah ya Rasulullah, yang bersifat murah dan asih,
mudah-mudahan memberi pertolongan kepada hambamu disaat-saat menjelang akhir ini.
Sekarang kami telah tua, akhirnya nanti bagaimana.
Hanya Tuhanlah yang mampu menolong kami.


Sageda sabar santosa
Mati sajroning ngaurip
Kalis ing reh aruraha
Murka angkara sumingkir
Tarlen meleng malat sih
Sanityaseng tyas mematuh
Badharing sapudhendha
Antuk mayar sawetawis
BoRONG angGA saWARga meSI marTAya


Mudah-mudahan kami dapat sabar dan sentosa,
seolah-olah dapat mati didalam hidup.
Lepas dari kerepotan serta jauh dari keangakara murkaan.
Biarkanlah kami hanya memohon karunia pada MU agar mendapat ampunan sekedarnya.
Kemudian kami serahkan jiwa dan raga dan kami.

http://aindra.blogspot.com/2007/12/serat-kalatidha-raden-mas-ngabehi.html
 
2. MENCOBA MEMAHAMI SEBABKEMEROSOTAN MORAL
 
1. Kuatnya paham Materialisme dan liberalisme.
Dua saudara ini telah menciptakan suatu fatamorgana bagi manusia(bisa jadi ini adalah qiyasan apa yang disebut DAJJAL, yang dalam sebuah hadits disebutkan bahwa nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka). keduanya menjanjikan 'kebahagian' bagi manusia. materialisme mengajarkan bahwa kebahagian adalah dengan menjadi orang kaya dan memiliki segalanya. Sementara liberalisme mengajarkan kebebasan dalam segala hal, karena menganggap manusia bebas berbuat apapun selama tidak mengganggu orang lain. Liberalisme sendiri bermula dari paham materialisme yang menganggap bahwa kehidupan ini hanyalah yang tampak saja. Yang tidak kasat mata dianggap tidak ada. Sehingga manusia tidak memahami Agama dengan doktrin ghaibnya serta keTuhanannya, agama dianggap hanya akal-akalan manusia sehingga agama disingkirkan. Akhirnya kehidupannya di dunia ini dianggap satu-satunya, tidak ada pembalasan atas segala perbuatannya yang telah dikerjakannya. dan ujungnya liberalisme beranak hedonisme. Kesenangan hidup dunialah yang menjadi tujuannya.
Tapi semua hal yang dijanjikan oleh kedua paham ini hanyalah fatamorgana yang nampak indah tetapi nayatanya hanyalah kekosongan. Yang paling kita khawtirkan dalam masalah ini adalah generasi remaja kita, karena banyak remaja saat ini secara tidak sadar terjerat oleh paham ini. Hal ini disebabkan kondisi para remaja sendiri(faktor dari dalam) dan kondisi lingkungannya (faktor eksternal).
Faktor-faktor Internal:
- kelabilan emosi

Faktor eksternal:
- Keluarga yang tidak Islami-kurangnya atau bahkan ketiadaan keteladanan.
- Pendidikan sekuler
- Hantaman budaya Barat yang materialis dan sekuler melalui berbagai media yang tidak terkendali.

2. Keterpukauan/ketercengangan Muslim terhadap Sains Modern
Banyak orang Islam yang terpukau dengan sains modern barat, sehingga terlalu begitu terpukaunya sampai-sampai menyilaukan pemahamannya akan arti kehidupan ini. Berbagai kekuatan yang dihasilkan oleh Sains modern menjadikan manusia lupa posisinya yang serba lemah. Manusia merasa paling berkuasa dapat melakukan apapun terhadap dunia ini. Akhirnya Lupa akan Kekuasaan Allah SWT. Alam beserta isinya yang seharusnya menjadi tanda-tanda kekuasaanNya bagi manusia, malah dijadikan alat untuk menjadi tuhan.

Saran Pemecahan masalah:
- Merubah dan membentengi pemahaman masyarakat terhadap materialisme dan liberalisme. Praktisnya dengan terus menerus memahamkan akan keburukan dan kebusukan dari dua paham ini. Menanamkan kesadaran muslimin akan keagungan ajaran Islam. Memberikan Pemahaman akan makna hakiki dari kehidupan di dunia ini dalam berbagai ceramah dan pengajian serta dalam khutbah jum'at.

- Keluarga adalah benteng utama bagi awal terbentuk moralitas manusia. Dari banyak kasus yang ada dapat disimpulkan bahwa keluarga yang tidak islami akan sangat mempengaruhi moralitas anggota keluarganya. Sehingga setiap keluarga muslim perlu untuk membangun keluarga yang Islami. Akan tetapi masalah selanjutnya adalah bagaiamana menciptakan keluarga yang Islami, sementara banyak umat islam yang baru mulai membangun keluarga tidak paham ajaran Islam khususnya mengenai kehidupan berkeluarga.Dewasa ini alih-alih, mereka yang baru menikah adalah produk budaya materialisme dan liberalisme. Praktisnya: Nampaknya umat Islam perlu mencontoh umat kristiani dalam persoalan pernikahan. Sebelum dua orang berlawanan jenis melaksanakan akad pernikahan, maka kedua orang itu wajib ditraining mengenai membentuk keluarga yang baik. Menurut salah seorang kristiani biasanya umat kristen yang akan menikah, selama dua bulan sebelum akad pernikahan mendapat pelatihan khusus untuk menjalani kehidupan keluarga yang baik. Memang sebenarnya di KUA sendiri ada hal semacam ini. Ada kegiatan training selama beberapa hari bagi seorang yang akan mencatatkan pernikahanya di KUA. Tapi nyatanya banyak yang enggan melakukan kegiatan ini. Mungkin seharusnya ada paksaan dengan cara menjadikannya sebagai syarat terlaksananya pencatatan nikah. Jika hal ini diterapkan mungkin juga akan ada masalah baru khususnya masalah dana. Kemudian yang menjadi pertanyaan, bisakah dana sedekah(Zakat, infak, sedekah) digunakan untuk pendanaan kegiatan seperti ini? Bukankah ini juga fisabilillah, Atau dana bagi orang fakir miskin yang tidak mampu membayar.

- Pendidikan formal yang ada saat ini adalah pendidikan sekuler. Apa yang diajarkan di sekolah-sekolah adalah ilmu sekuler, terutama Sains modern barat yang tidak pernah meyinggung sama sekali tentang KeTuhanan, padahal di dalam Islam seharusnya Sains Alam semakin memperkuat keimanan karena menunjukan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Akhirnya Ulama kontemporer seperti Hosein Nasr, Ziaudin Sardar, Naquib al Atas mengkampanyekan perlunya islamisasi ilmu Sains modern.

- Dalam era informasi ini media massa memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan manusia. Salah satu sisi buruknya adalah penjajahan budaya. Saat ini begitu mudahnya budaya asing menyusupi kehidupan masyarakat islam melalui media massa khususnya lagi media berbasis video.Padahal banyak ahli psikologi setuju bahwa keteladanan adalah seribu kata-kata. Sementara ini banyak generasi muda kita meneladani apa yang ditontonnya melalui media massa. Sehingga seharusnya pemerintah harus tanggap dan bergerak cepat mengenai masalah ini khususnya terhadap budaya asing yang jelas bertentangan dengan nilainilai Islam. Meskipun telah ada badan-badan yang menangani permasalahan ini seperti KPI, lembaga sensor, dan lainnya.Bahkan Undang-undang pun telah dibuat. Tetapi masih belum begitu tampak hasilnya. Seperti kita saksikan sendiri dalam kebanyakan tayangan TV, begitu banyak acara yang mengusung nilai2 materialisme, liberalisme dan hedonisem.(dan nan'uzubillah, akhir-akhir ini sering beredar video-video x).yah, gimana lagi, pendirian berbagai stasiun TV yang ada kebanyakan berlandaskan semangat kapitalisme. begitu pula dalam film layar lebar, banyak produser hanya mengejar keuntungan (kapitalis) meskipun ada beberapa film yang sebaliknya. Kenapa demikian? Bagaimana tidak , sistem pendidikan kita adalah sekuler. Agama selalu disampingkan bahkan disisihkan. Sementara ilmu-ilmu sains didengung2kan. Hal ini juga tidak terlepas dari keterpukauan terhadap kecanggihan teknologi modern (yang akhirnya saat ini akibat tidak memperhatikan nilai-nilai agama manusia hampir memusnahkan rasnya sendiri akibat ulah tangannya). Akibat pendidikan sekuler masyarakat terdidik banyak yang tidak mengindahkan moralitas.

WaAllahu A'lamu bishawa

Read more: Mencoba Memahami sebab kemerosotan Moral - IslamWiki http://islamwiki.blogspot.com/2010/03/mencoba-memahami-sebab-kemerosotan.html#ixzz1zcPHbcJ2
Under Creative Commons License: Attribution
 

Benturan Budaya Lokal dengan Budaya Luar Tidak dapat Dihindari

Benturan budaya tidak terelakkan. Kita tidak dapat menghindari benturan antara budaya lokal dengan budaya luar. Disadari atau tidak, banyak dari antara kita merasakan pengaruh budaya yang tidak berasal dari budaya nasional. Kita lihat pengaruh internet. Facebook, Twitter, Blackberry, handphone, dan berbagai produk dari budaya luar telah mempengaruhi kehidupan kita.

Masih ada buku, mass media asing atau interaksi langsung dengan orang Barat. Informasi begitu terbuka dan sulit membendung nilai-nilai dari budaya luar. Apakah itu nilai yang baik seperti kebebebasan berpikir ataupun nilai yang buruk seperti film porno- ini bersentuhan dengan mudah pada kehidupan kita.
Kita juga harus menghadapi tantangan dari budaya Cina. Dengan semakin baiknya keadaan ekonomi negara Cina, benturan budaya antara budaya lokal dengan budaya Cina akan mewarnai kehidupan kita. Kita akan berhadapan dengan pikiran-pikiran Confucianisme yang telah ribuan tahun mempengaruhi bangsa Tionghoa, yang bisa juga mempengaruhi masyarakat dan budaya lokal.
Di dalam negeri sendiri budaya lokal telah bersentuhan dengan budaya lokal lainnya. Mahasiswa yang pindah dari satu daerah ke daerah lain atau dari kota yang satu ke kota lain membawa nilai-nilai budaya lokalnya. Mau tidak mau ia harus menghadapi budaya yang ditemui di daerah atau kota yang baru.
Pertemuan antara dua atau beberapa budaya memang tidak dapat menghindari benturan budaya. Akan ada benturan nilai dan sistem kehidupan. Benturan tidak selalu dalam bentuk phisik. Namun, benturan pikiran tidak dapat dihindari, yang bisa berbuntut pada benturan phisik. Apa akibat dari pertemuan budaya-budaya yang berbeda ini? Budaya yang kuat akan menang pada akhirnya sekalipun itu harus melalui pertarungan yang alot dan waktu yang panjang. Bagaimana putra-putri Indonesia menghadapi hal ni? Apakah kita akan lari atau menutup diri seolah-olah pengaruh budaya luar ini tidak ada? Ataukah kita berdiam diri dan merelakan budaya lokal kita hanyut?
Kita harus berbesar hati menghadapi kenyataan ini dan waspada terhadap nilai-nilai dari budaya luar. Kita perlu menilai budaya-budaya ini; nilai-nilai manakah yang harus diambil dan nilai mana yang harus ditolak. Kita juga harus bersabar bila nilai-nilai dari budaya yang tinggi akan memenangkan pertarungan. Sebab ada kemungkinan kita sendiri akan meninggalkan nilai-nilai budaya lokal dan merangkul nilai-nilai budaya luar yang dianggap lebih baik.

Mayat Itu Berjalan Lagi Bukan sebagai Kuntilanak

Senin, 02 Juli 2012

Mayat Itu Berjalan Lagi Bukan sebagai Kuntilanak

http://dahlaniskan.wordpress.com/

APA kabar PT Kertas Leces (Persero)? Yang sudah lebih dari dua tahun mati suri? Yang selama itu nasib karyawannya tidak menentu? Yang diyakini tidak akan bisa hidup lagi kalau tidak digerojok uang negara Rp 200 miliar?
Sejak dua minggu lalu pabrik kertas yang sangat besar yang berlokasi di selatan Probolinggo ini mulai siuman. Tanda-tanda kehidupan sudah mulai kelihatan. Suara mesin sudah kembali menderu.
Leces hidup lagi!
Bukan sebagai mayat berjalan, tapi sebagai pasien yang sudah bisa dipaksa berjalan.
Semula negara sudah setuju kembali menggerojokkan Rp 200 miliar ke Leces. Tapi, ketika saya diangkat menjadi menteri BUMN, rencana penggerojokan itu saya minta ditunda. Saya ingin melihat dulu apakah benar persoalan pokoknya pada modal. Apakah bukan pada manajemen. Ini harus saya pelajari dulu agar negara tidak mudah begitu saja menggerojokkan dana ratusan miliar rupiah.
Belum tentu dengan dana tersebut pabrik kertas, atau bisnis apa pun yang lagi kesulitan, bisa diselamatkan. Kadang satu manajemen memiliki kecenderungan mencari jalan yang paling mudah. Alasan ketidakcukupan modal adalah kambing hitam yang sangat lezat disate dan disuguhkan. Tapi, dari pengalaman saya, belum tentu akar masalahnya ada di modal. Sering kali pokok persoalannya terjadi di manajemen itu sendiri.
Memang banyak yang sewot ketika saya menyetop pengucuran dana itu. Untuk apa distop? Kan sudah disetujui? Tinggal dicairkan? Kok bodoh amat diberi uang ratusan miliar rupiah tidak segera ditangkap?
Tentu saya tidak akan tergoyahkan dengan penilaian seperti itu. Kalau memang ada jaminan dengan pencairan dana tersebut Leces pasti hidup, saya pun akan langsung setuju. Masalahnya, jaminan pasti hidup itu yang tidak ada.
Terbukti gerojokan uang ratusan miliar rupiah pada tahun-tahun yang lalu juga tidak berhasil menghidupkan Leces. Uang itu habis lagi dan habis lagi. Dan kecenderungannya akan minta lagi dan minta lagi.
Untuk Leces, saya melihat persoalan pokok di manajemen. Itu bisa saya rasakan ketika saya bermalam di kompleks pabrik kertas Leces pada malam Idul Adha lalu. Saya melihat manajemen sudah betul membangun boiler baru berbahan bakar batu bara. Itu akan membuat biaya energi Leces jauh lebih murah. Saya salut dengan pemikiran dan langkah itu.
Tapi, untuk menghidupkan Leces tidak cukup hanya dengan satu langkah. Dia membutuhkan puluhan, bahkan ratusan terobosan. Itulah sebabnya diperlukan manajemen yang lebih kuat.
Tidak gampang menemukan tim manajemen yang tangguh. Apalagi, untuk “dijerumuskan” ke dalam perusahaan yang sedang pingsan. Tim manajemen yang kuat tentu ingin masuk ke perusahaan yang besar dan bagus.
Leces rupanya masih bernasib baik. Seseorang yang bernama Budi Kusmarwoto mau dijebloskan ke situ. Pengalamannya yang panjang saat menjadi direktur anak perusahaan PLN (PT PLN Engineering) memudahkan dia menganalisis kondisi Leces.
Orangnya juga tidak egois. Ketika diminta membentuk dream team untuk manajemen Leces, Budi tidak serta merta mengajak rombongan dari luar masuk ke Leces. Budi memilih orang-orang dalam untuk menjadi timnya.
Sebagai mantan Dirut PLN tentu saya mengenal Budi dengan baik. Antusiasmenya meledak-ledak. Gairah kerjanya tidak pernah padam. Kecintaannya kepada pekerjaan membuat moto hidupnya hanya kerja, kerja, kerja! Antusiasme itu yang juga terlihat menular ke seluruh tim Leces sekarang ini.
Sebagaimana saya, Budi juga berpandangan ini: untuk menghidupkan Leces tidak perlu gerojokan dana dari kas negara. Kini Leces hidup lagi tanpa mendapat modal baru satu rupiah pun. Kalau kelak Leces berhasil maju kembali, seluruh karyawannya tentu akan sangat bangga: bisa maju tanpa modal! Karyawan bisa menunjukkan bahwa tambahan modal bukan segala-galanya!
Tentu, karena sudah telanjur disetujui, Budi tetap berharap agar dana Rp 200 miliar itu bisa cair. Bukan lagi untuk modal, tapi untuk membayar utang lama. Pada masa lalu, Leces meninggalkan utang hampir Rp 1 triliun. Manajemen Leces berhasil melakukan negosiasi: kalau Leces mau bayar Rp 150 miliar, utang hampir Rp 1 triliun itu dianggap lunas.
Utang yang sudah berumur lebih dari 10 tahun itu harus dibayar. Kalau tidak, utang itu akan memusingkan manajemen baru yang sedang dituntut untuk maju.”
Budi juga berencana menggunakan dana sisanya untuk membangun hutan tanaman industri. Untuk mencukupi bahan baku Leces di masa depan. Tentu saya setuju dengan dua rencana itu: bayar utang dan hutan tanaman industri.
Persoalannya, belum tentu anggaran yang sudah disetujui untuk modal bisa dialihkan untuk membayar utang. Di sinilah BUMN akan selalu kalah lincah dengan swasta.
Apa pun kasus menghidupkan kembali Leces ala Budi akan menjadi perhatian saya. Maksud saya, perusahaan seperti galangan kapal IKI Makassar yang juga sudah lama mati bisa hidup kembali dengan cara yang sama. Demikian juga, pabrik PT Iglas yang lagi dalam kesulitan.
Kelak, kalau Leces sudah sehat, harus segera di-go public-kan. Industri kertas tidak lagi menempati posisi strategis bagi negara. Tidak selayaknya lagi negara terus menggerojokkan dana untuk industri seperti Leces. Semakin banyak modal publik masuk ke dalamnya akan semakin baik.
Leces memang belum teruji akan menjadi perusahaan yang pasti akan hidup sehat. Masih harus dilihat dalam satu periode tertentu.
Tapi, setidaknya Leces kini sudah kembali berjalan: bukan sebagai kuntilanak, tapi sebagai badan yang sudah lengkap dengan rohnya. Roh antusias dan roh penuh kiat! (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Senin, 02 Juli 2012

Media Indonesia - Carilah Ilmu hingga ke Mal

Media Indonesia - Carilah Ilmu hingga ke Mal

Amanda, 21, bersama Rara, 20, dan Mesty, 21, asyik mengobrol di sebuah kafe di Plaza Festival, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Mereka membahas ujian akhir semester yang sudah di depan mata. Di atas meja, di sela-sela gelas dan penganan, terserak laptop, buku-buku teks, dan catatan kuliah.

Menunggu kuliah sembari menyeruput kopi atau minuman dingin di kafe menjadi aktivitas lazim buat ketiga mahasiswa Jurusan Manajemen Bisnis, Universitas Bakrie itu. Lokasi kampus yang berada dalam Plaza Festival, sebelumnya dikenal sebagai Pasar Festival, membuat mereka bisa dengan mudah berpindah dari ruang kelas ke kafe.

Universitas Bakrie, semula bernama Bakrie Management School, sejak berdiri pada 2006 lalu, memang membuka ruang kelas dalam Plaza Festival. Langkah serupa juga dilakukan Binus University International yang pada September nanti akan membuka 21 ruang kelas di lantai 6 FX Lifestyle Center, Sudirman, Jakarta Selatan, lengkap dengan coffee shop dan lounge.

Buat pihak kampus, memboyong kursi, papan tulis, peranti proyektor, serta ruang perpustakaan ke mal menjadi solusi buat memperoleh fasilitas infrastruktur yang paripurna.

"Daya tampung di kampus The Joseph Wibowo Center di kawasan Hang Lekir, Senayan, Jakarta Selatan, tak sebanding dengan pertumbuhan jumlah mahasiswa. Yang bermasalah sekali tempat parkir,” ujar Dekan Fakultas Creative Media dan Technologies Binus University, Minaldi Loeis.

Lokasi mal yang di pusat perkantoran Jakarta itu, kata Minaldi, juga memudahkan para pengajar di kampus yang mengirim mahasiswanya ke berbagai universitas luar negeri, di antaranya ke Australia dan Korea, untuk memperoleh gelar ganda itu.

"Dosen-dosen kami banyak para profesional di bidangnya, dan mayoritas berkantor di kawasan Sudirman-Thamrin dan sekitarnya. Karena itu, FX kami anggap sangat strategis,” kata Limandi.

Faktor lokasi itu juga yang membuat Wahyu, 25, mengambil program pascasarjana di Universitas Pelita Harapan yang berkampus di Plaza Semanggi, Jakarta Selatan.
“Karena pagi saya kerja di kawasan Sudirman juga, baru bisa kuliah sore, kalau pilih kampus yang jauh mungkin belum bisa lanjut kuliah sampai sekarang,” ujar Wahyu.

Fenomena ini, kata Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia, Handaka Santosa, menunjukkan Jakarta dan beberapa kota besar di negeri ini tengah mengarah ke model superblok yang sebelumnya telah diadopsi negara maju. "Semua fasilitas ada di satu tempat, tidak hanya sarana belanja, tetapi ada kantor dan sekolah. Tujuannya, efisiensi waktu, menunjang gaya hidup masyarakat urban yang sibuk,” kata Handa yang juga CEO Plaza Senayan.

Namun, berbeda dengan negara-negara lain, pembangunan superblok itu idealnya didukung sistem transportasi yang sempurna. "Agar lebih efisien,” tegasnya.

Di Indonesia, superblok yang dikawal pihak swasta telah membuat Amanda bisa menghirup kopi sembari menikmati alunan musik lembut di kampus seusai menyelesaikan kuis yang lumayan menguras konsentrasi dari dosennya. Namun setelah seluruh jam kuliah tuntas, para dosen dan mahasiswa itu mesti berpikir keras untuk mencari ruas jalan menuju rumah yang kemacetannya lebih bisa ditoleransi. (M-1)

Media Indonesia - Target Penurunan Angka Kemiskinan Meleset

Media Indonesia - Target Penurunan Angka Kemiskinan Meleset

JUMLAH warga miskin di Indonesia pada Maret 2012 tercatat 29,13 juta jiwa atau 11,96% dari total penduduk. Angka itu berarti hanya turun 0,53% ketimbang jumlah penduduk miskin satu tahun sebelumnya (Maret 2011) yang mencapai 12,49%.

Dengan demikian, penurunan angka kemiskinan 1% dalam kurun satu tahun yang ditargetkan oleh pemerintah tidak tercapai.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat faktor yang mengurangi jumlah penduduk miskin, antara lain, upah harian nominal buruh tani dan bangunan yang meningkat pada triwulan I 2012, yakni 4,81%. Kenaikan nilai tukar petani juga menjadi faktor pendorong berkurangnya jumlah warga miskin.

"Indeks kedalaman kemiskinan turun dari 2,08 menjadi 1,88, sedangkan indeks keparahan kemiskinan turun dari 0,55 menjadi 0,47. Turun sedikit, tetapi menunjukkan penduduk yang tadinya berada di ujung bawah kini mendekati garis kemiskinan walau masih dikategorikan miskin," kata Kepala BPS Suryamin dalam konferensi pers, kemarin.

Suryamin memaparkan jumlah penduduk miskin yang naik kelas selama Maret 2011 ke Maret 2012, yakni 399,5 ribu orang di perkotaan dan 487 ribu orang di perdesaan. Dengan demikian, kini persentase penduduk miskin di perkotaan turun menjadi 8,78% dari sebelumnya 9,23%. Adapun di perdesaan turun dari 15,12% dari 15,72%.

Dalam menanggapi laporan BPS, Direktur Indef Enny Sri Hartati menilai pertumbuhan ekonomi 6,3% secara year on year pada triwulan I 2012 jika dibandingkan dengan akhir periode sama tahun lalu tidak mampu menekan kemiskinan secara signifikan. Kemiskinan hanya turun 0,53%, yakni dari 12,49% menjadi 11,96%.

Dia juga mempertanyakan dasar perhitungan kemiskinan yang tidak sesuai realitas kebutuhan.

"Rata-rata (kebutuhan penduduk yang berada di) garis kemiskinan itu Rp250 ribu per kapita per bulan. Makanan Rp182 ribu dan di luar makanan Rp65 ribuan. Kini, katakan beli obat batuk saja Rp20 ribu, belum buku sekolah anak. Ini tidak rasional," tegas Enny.

Setidaknya standar garis kemiskinan yang diberlakukan sama dengan Bank Dunia, yakni US$2 per kapita per hari. Angka itu, dengan asumsi nilai tukar 9.400 per dolar AS, berarti Rp564 ribu per kapita per bulan, atau di atas patokan BPS sebesar Rp248.707 per kapita per bulan. (GA/X-15)


  3 EKONOM INDONESIA   DAN PEMIKIRANNYA   3 tokoh ekonom Indonesia pasca-reformasi, sekedar sampling acak,   berfokus pada pemulihan kri...